Sabtu, 27 Agustus 2016

ANTARA FAKTA vs CANDU ROKOK


Apakah wacana menaikkan cukai rokok akan ‘membunuh’ buruh pabrik rokok? Mematikan petani tembakau? Ijinkan saya menjawabnya dengan fakta. Dan jika kalian tidak sependapat, tolong jawab juga dengan fakta.


Apakah cukai rokok naik, maka buruh pabrik rokok akan dipecat? Jawabannya, bisa iya, bisa tidak. Tapi yang pasti, tanpa kenaikan cukai rokok, buruh pabrik rokok memang sudah banyak dipecat. Tahun 2014, Sampoerna mem-PHK 4.900 buruhnya, Bentoel menutup 8 pabriknya (dari 11, sisa 3), juga mem PHK ribuan karyawan, Gudang Garam mem-PHK 4.000 lebih buruhnya. Belum terhitung pabrik-pabrik lainnya. Perusahaan beralih ke mesin. Yang tidak perlu digaji tiap bulan, yang produktivitasnya tinggi, yang cepat dan efisien. Itu fakta semua. Perusahaan rokok peduli sama buruh? Naif jika kita percaya 100%. Di mana mana, bisnis adalah bisnis. Dulu, klaim tentang 6 juta tenaga kerja bekerja di industri rokok mungkin masuk akal, tapi sekarang? silahkan buka data terbaru, berapa persen yg telah di PHK dan digantikan oleh mesin?

Apakah cukai rokok naik, maka petani tembakau akan kehilangan pekerjaan? Jawabannya, bisa iya, bisa juga tidak. Tapi yang pasti, tanpa kenaikan cukai rokok, petani tembakau Indonesia memang perlahan tapi pasti telah tersingkir. Tahun 2011, menurut data dari Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), impor tembakau Indonesia hanya 64,8 ribu ton. Setahun kemudian, 2012, nilainya melesat tidak terkendali 104,4 ribu ton. Dan naik lagi tahun 2013, sebesar 133,8 ribu ton. Kebutuhan industri tembakau Indonesia itu ada di angka 250 ribu ton per tahun, itu berarti, separuh lebih tembakau diimpor dari luar negeri. Bisnis adalah bisnis, jika tembakau luar negeri lebih murah, mengapa pabrik rokok harus beli tembakau petani Indonesia?


Harga tembakau? di Tiongkok, harga tembakau bisa 1-2 dollar/kg. Di Indonesia saat ini diangka 34.000 – 47.000/kg, dan petani sudah megap-megap dengan harga segitu. Dulu, idealnya harga tembakau adalah 80.000-120.000/kg. Tapi bagaimana mau jadi 120rb? Tiongkok mau dilawan? Silahkan lawan harga tembakaunya yg hanya 14.000/kg. Tambah biaya logistik dan sebagainya, tembakau Tiongkok sampai di Indonesia cuma 20-30rb/kg. Pembela rokok itu koar koar bilang ada 6 juta petani tembakau di Indonesia. Kok bisa produksi tembakau-nya cuma 170.000 ton per tahun saja? Lahan tembakau saja semakin berkurang, paling tinggal 190.000 hektare, karena petani mulai mikir menanam tanaman lain.

Jadi ijinkan saya memberitahu kalian masa depan industri rokok ini?
1.   Mereka akan semakin beralih ke mesin utk memproduksi rokok 
2.   Mereka mencari tembakau murah (bahkan jika itu di planet Mars sekalipun).

Apakah pabrik rokok memang peduli dengan petani Indonesia? Peduli dgn buruh pabrik? Yang saya tahu, sejak jaman dulu, hingga jaman mobil terbang, juga kejadian di negara negara maju (sebelum pabrik rokok terpaksa menyingkir ke negara berkembang karena perokoknya berkurang), ‘petani’ dan ‘buruh’ memang menjadi argumen yg paling seksi sebagai tameng. Hingga kita lupa, Sampoerna, untung setahunnya bisa 10 trilyun loh. 10.000.000.000.000, tuh nol-nya banyak banget. Kalau gaji kita dikantor ‘cuma’ 10 juta per bulan, kita butuh 1.000.000 bulan untuk dapat uang ini.


Pemilik perusahaan rokok tajir super gila, sekali tepuk dapat untung 10 trilyun, nasib ‘6 juta’ petani tembakau cuma dapat remah-remahnya, ‘6 juta’ tenaga kerja pabrik rokok cuma dapat ampasnya saja.

Kita bahkan belum bicara tentang berapa besar biaya kesehatan yg harus dikeluarkan gara gara rokok. Kita bahkan belum bicara jutaan remaja usia SMP, SMA, tergoda merokok. Kita belum bicara tentang biaya biaya berobat akibat penyakit rokok. Saya tidak peduli kalian mau terus merokok atau berhenti (bahkan i dont care kalian mau mati atau sehat gara gara rokok). Yang saya peduli, saat mereka memikirkan tulisan ini, akan lahir jutaan generasi baru yg tahu persis jika merokok itu tidak bikin jantan, macho, cowboy dan sebagainya, merokok itu justeru bikin impoten.


#Darwis Tere Liye


0 komentar:

Posting Komentar

PERBANKAN

REVIEW

KASUS BISNIS

HALAL CORNER

KAJIAN MUSLIM

RENUNGAN

SEJARAH NUSANTARA

SEJARAH INDONESIA

SEJARAH DUNIA

EDITORIAL

DESTINASI INDONESIA

DESTINASI MANCANEGARA