Minggu, 06 Maret 2016

BANK RAMAI-RAMAI MEMBERIKAN TABUNGAN BERBUNGA TINGGI (2)

4.   Tanda Premium (OCBC NISP)













Simpanan yang memberikan kemudahan transaksi perbankan Anda dengan keuntungan gratis tarik tunai di semua jaringan ATM dan memberikan bunga yang optimal. Dengan setoran awal Rp 1 juta dan gratis biaya administrasi jika saldo harian rata-rata diatas Rp. 50 juta, nasabah akan memperoleh bunga tabungan yang lebih kompetitif sebagai berikut :

Jumlah Tabungan
Suku Bunga
< Rp10 Juta
0,00%
> Rp10 Juta - < Rp100 Juta
1,25%
> Rp100 Juta - < Rp500 Juta
3,25%
> Rp500 Juta - < Rp1.0 Milyar
4,25%
> Rp1.0 Milyar - < Rp2.5 Milyar
4,75%
> Rp2.5 Milyar
5,75%

5.   Tabungan Pro (Maybank)






Tabungan bagi yang menginginkan fleksibilitas dalam bertransaksi. BII Tabungan Pro memberikan tingkat suku bunga yang lebih tinggi dibandingkan tabungan lainnya. Anda mendapatkan bunga harian dengan tingkat suku bunga yang tinggi dan  didukung sistem perbankan online di seluruh Indonesia, dapatkan kemudahan dan kebebasan dalam bertransaksi perbankan, baik melalui cabang serta berbagai layanan online, seperti ATM, Phone Banking, dan Internet Banking. Suku Bunga disesuaikan dengan jumlah penempatan dana sebagai berikut :

Saldo Akhir
% Rate p.a
< Rp50.000.000
0.00 %
≥ Rp50.000.000 s.d < Rp100.000.000
1.00 %
≥ Rp100.000.000 s.d < Rp250.000.000
1.50 %
≥ Rp250.000.000 s.d < Rp500.000.000
3.00 %
≥ Rp500.000.000 s.d < Rp1.000.000.000
4.00 %

6.   Tabungan SiAga Premium (Bank Bukopin)









Tabungan berbunga setara deposito dengan beragam layanan, kemudahan serta keleluasaan dalam bertransaksi. Dapatkan pula keuntungan yang diperoleh, seperti bunga tabungan anda dihitung berdasarkan saldo harian dan dibukukan pada akhir bulan, mendapatkan Kartu SiAga Bukopin yang berfungsi sebagai kartu debet dan dapat digunakan untuk mengakses berbagai layanan e-Banking Bank Bukopin dan dapat digunakan juga untuk bertransaksi di seluruh merchant yang berlogo Visa,menikmatikemudahan bertransaksi e-Banking Bank Bukopin melalui ATM Bukopin, SMS Banking Bukopin, Internet Banking Bukopin dan HALO Bukopin, limit transaksi harian sampai dengan Rp 500.000.000,- dan Bebas biaya tarik tunai di ATM Bank Lain (ATM Bersama dan "BCA/PRIMA") dengan suku bunga sebagai berikut :

Saldo Tabungan
Bunga
< Rp 200.000.000,
1%
Rp 200.000.000,- s/d Rp 500.000.000-
3%
Rp 500.000.000,- s/d Rp Rp 2.000.000.000,-
3.5%
Rp 2.000.000.000,- s/d Rp 5.000.000.000-
4%
Rp 5.000.000.000,- s/d Rp 10.000.000.000-
5%
> Rp 10.000.000.000
5.5%

BANK RAMAI-RAMAI MEMBERIKAN TABUNGAN BERBUNGA TINGGI (1)


Bagaimana jika ada tawaran tabungan dengan bunga hingga setara deposito? Sudah pasti kita tergiur. Bagaimana tidak, produk perbankan yang paling akrab dengan kita ini bunganya setara, atau bahkan lebih tinggi dari bunga deposito. Sekarang ini memang sedang marak penawaran tabungan berbunga tinggi, atau disebut tabungan premium.
Penawaran ini merupakan upaya bank untuk menarik nasabah. Pihak bank memang biasa melakukan upaya ini karena masyarakat semakin 'melek investasi' dan jenis produk investasi pun kian beragam. Orang pun tak lagi hanya menaruh uangnya di bank. Persaingan antar bank juga semakin ketat. Tak aneh jika bank-bank berlomba memberikan pelayanan bagi nasabah mereka.
Ada kalanya nasabah memiliki dana standby yang setiap saat bisa digunakan, jika disimpan dalam bentuk tabungan biasa tidak mendapat kompensasi yang maksimal karena bunga tabungan tersebut begitu kecil. Tabungan Premium menjadi salah satu pilihan dari nasabah. Tabungan premium lebih fleksibel dibanding deposito yang hanya bisa diambil setelah jatuh tempo. Tabungan tak harus menunggu jangka waktu 3 bulan atau bahkan satu tahun. Setiap saat butuh dana, nasabah bisa mencairkan uangnya.
Umumnya saldo minimal tabungan premium sekitar Rp 100 juta. Dengan memarkir uang dalam jumlah besar tersebut, nasabah pun mendapat kompensasi, yaitu suku bunga yang relatif tinggi, plus fasilitas-fasilitas menarik lainnya.
Kelebihan utama dari tabungan premium adalah bunga relatif tinggi. Penetapan bunga ini biasanya menggunakan sistem berjenjang (tiering). Semakin besar saldo, akan semakin tinggi bunganya. Misalnya tabungan Rp. 100 juta sampai dengan Rp. 500 juta akan mendapatkan bunga 5%, sementara tabungan di atas Rp 500 juta bunganya 6%.
Berikut beberapa jenis tabungan premium yang kami himpun :

    1.   FlexiMAX (Bank Danamon)

 

  





Dengan saldo minimum Rp50 juta, Tabungan FlexiMAX memberikan kemudahan bagi Anda dalam bertransaksi dan memberikan beberapa keuntungan finansial, antara lain bebas biaya administrasi bulanan jika saldo rata-rata pada bulan berjalan minimal Rp50 Juta, bebas biaya transfer RTGS 10x/bulan, SKN 30x/bulan, kliring tidak terbatas, bebas biaya tarik tunai ATM di luar negeri (Cirrus/Maestro) dan bunga menarik seprti tabel dibawah ini :

Tiering Saldo Harian
Suku Bunga
< Rp50 Juta
0,00%
> Rp50 Juta - < Rp500 Juta
2,75%
> Rp500 Juta - < Rp1 Milyar
3,50%
> Rp1 Milyar - < Rp2.5 Milyar
4,00%
> Rp2.5 Milyar - < Rp5 Milyar
5,00%
> Rp5 Milyar - < Rp10 Milyar
5,25%
> Rp10 Milyar
6,50%

2.   MySaving Super Benefit (Bank Mayapada)

 





MySaving Super Benefit merupakan program tabungan dengan memberikan manfaat 'super' berupa suku bunga yang setara dengan suku bunga deposito dan gratis untuk biaya transaksi RTGS, LLG, dan kliring. Super benefit yang didapat antara lain, perhitungan suku bunga dihitung berdasarkan saldo rata-rata harian, gratis untuk biaya transaksi RTGS, LLG dan kliring, fasilitas  kartu  ATM  Bebas Biaya untuk transaksi  tarik  tunai, cek saldo dan penggunaan Debit Card ( kartu belanja di jaringan Prima Debit ) serta suku bunga tabungan yang menarik setara dengan bunga deposito seperti ditunjukkan pada tabel di bawah ini :
 
Tiering Saldo Harian
Suku Bunga
s/d IDR 200 Juta
1.75 %
> IDR 200 Juta - IDR 500 Juta
4.00 %
> IDR 500 Juta - IDR 1 Miliar
5.25 %
> IDR 1 Milyar
6.75 %

3.   BJB Tandamata Gold (Bank Jawa Barat Banten)











Menabung di BJB Tandamata Gold anda bisa mendapatkan tabungan dengan suku bunga premium sekaligus mendapatkan free asuransi. Keuntungan didapat antara lain perlindungan asuransi jiwa untuk saldo rata-rata bulanan minimal Rp. 500.000.000, mendapatkan Kartu ATM bank bjb yang berfungsi sebagai kartu ATM dan kartu debit yang dapat digunakan untuk berbelanja dan pembayaran lainnya, bebas biaya transaksi tarik tunai di seluruh ATM bank bjb, ATM Bersama dan Prima dan hanya dengan setoran awal sebesar Rp 500.000,- kita telah memiliki rekening Tabungan bjb Tandamata Gold dengan tingkat suku bunga premium seperti tabel di bawah ini :

Tiering Saldo Harian
Suku Bunga
0 < 10.000.000
0,00%
10.000.000 ≤ saldo < 100.000.000
1,00%
100.000.000 ≤ saldo < 1.000.000.000
2,00%
saldo ≥ 1.000.000.000
3,00%

OJK RAGUKAN SPIN OFF UUS BPD

Perbankan Syariah


















Menurut ketentuan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 11/10/PBI/2009 tentang Unit Usaha Syariah, bank-bank umum konvensional yang memiliki unit usaha syariah wajib memisahkan UUSnya paling lambat di tahun 2023. Menurut data statistik perbankan syariah yang dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per Desember 2015 ada total 34 (tiga puluh empat) bank syariah (diluar BPRS) yang beroperasi di Indonesia, yaitu :

   1.    Bank Muamalat Indonesia
   2.    Bank Victoria Syariah
   3.    BRI Syariah
   4.    BPD Jawa Barat Banten Syariah
   5.    BNI Syariah
   6.    Bank Syariah Mandiri
   7.    Bank Syariah Mega Indonesia
   8.    Bank Panin Syariah
   9.    Bank Bukopin Syariah
  10.  BCA Syariah
  11.  Maybank Syariah Indonesia
  12.  BTPN Syariah
  13.  UUS Bank Danamon
  14. UUS Bank Permata
  15. UUS BII
  16. UUS CIMB Niaga
  17. UUS OCBC NISP
  18. UUS Bank BTN
  19. UUS Bank Sinarmas
  20. UUS BPD DKI
  21. UUS BPD DIY
  22. UUS BPD Jawa Tengah
  23. UUS BPD Jawa Timur
  24. UUS BPD Jambi
  25. UUS BPD Aceh
  26. UUS BPD Sumatera Utara
  27. UUS BPD Sumatera Barat
  28. UUS BPD Riau Kepri
  29. UUS BPD Sumsel Babel
  30. UUS BPD Kalimantan Selatan
  31. UUS BPD Kalimantan Barat
  32. UUS BPD Kalimantan Timur
  33. UUS BPD Sulselbar
  34. UUS BPD NTB

Dari 34 bank syariah tersebut, 22 (dua puluh dua) diantaranya merupakan unit usaha syariah (UUS). Dari 22 UUS tersebut, 15 (lima belas) diantaranya adalah UUS BPD.

Untuk UUS Bank konvensional selain BPD nampaknya tidak menemui hambatan untuk melakukan spin off unit syariahnya mengingat syarat modal minimal untuk UUS yang di-spin off dari induknya adalah Rp. 500 Miliar, relatif kecil bagi bank konvensional selain BPD tersebut. Jika tidak secara organik, bank konvensional tinggal mengakuisisi bank konvensional lainnya untuk dikonversi menjadi bank umum syariah (BUS). Apalagi dari 12 (dua belas) BUS yang ada saat ini, hanya 2 (dua) BUS yang konversi secara organik, yang lainnya merupakan akuisisi bank lain kecuali Bank Muamalat yang memang didirikan awalnya sebagai bank syariah.

Namun tidak demikian halnya dengan BPD. Sebagian BPD memiliki modal minim sehingga akan mengalami kesulitan manakala memisahkan unit syariahnya. Beberapa BPD sudah menyatakan niatnya untuk menyegerakan pemisahan unit syariahnya. Di tahun 2016 ini setidaknya ada 3 (tiga) BPD yang dikabarkan siap melakukan spin off UUS-nya menjadi BUS. Ketiga BPD tersebut adalah BPD Jatim, BPD Jateng dan BPD DKI. Khusus BPD Aceh akan mengkonversi dirinya menjadi bank syariah. BPD Riau Kepri mengatakan akan melakukan spin off di tahun 2017 yang akan datang.

Namun rencana spin off UUS BPD ini diragukan oleh OJK. Hingga akhir 2015 belum ada dokumen yang masuk kepada OJK. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat diperlukan beberapa tahapan yang harus dilewati terlebih dahulu. Paling tidak ada 2 (dua) tahap yang dilakukan, yaitu tahap persetujuan untuk melakukan persiapan pendirian bank umum syariah dan tahap pemberian izin usaha, yaitu izin yang diberikan untuk melakukan kegiatan usaha setelah persiapan selesai dilakukan.

Jika BPD BPD bermodal kecil tidak bisa memisahkan UUS-nya hingga batas waktu yang ditentukan, UUS tersebut terancam ditutup. Rencana spin off UUS wajib dibuat dengan komitmen tinggi, baik dari bank induk maupun dari para pemegang saham yang notabene pada BPD adalah gubernur, bupati dan walikota serta anggota DPRD yang berperan dalam menyetujui perda penyertaan modal pada BPD.

Sabtu, 05 Maret 2016

SUKSESI DIRUT BANK MANDIRI











Melanjutkan posting sebelumnya, suksesi Dirut Bank Mandiri menarik untuk dibahas mengenai pengganti kandidat yang nantinya akan terpilih menjadi Dirut Bank Mandiri. Dari 8 (delapan) kandidat yang ada, 5 (lima) diantaranya saat ini memegang tampuk pimpinan sebagai CEO di perusahaan lainnya. 3 (tiga) kandidat lainnya adalah dari dalam Bank Mandiri sendiri.

Dari 5 (lima) CEO tersebut 4 (empat) diantaranya sebagai Dirut di perusahaan pelat merah. Karena perusahaan Badan Usaha Milik Negara dimiliki oleh pemerintah melalui kementerian BUMN, maka unsur “selera” dan kepentingan sangat berpengaruh terhadap pengganti CEO yang akan meninggalkan kursi jabatannya tersebut.

Saat ini beredar skenario yang telah disiapkan oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), seperti apa skenarionya?

Asmawi Syam (Direktur Utama BRI)

Jika Asmawi Syam terpilih menjadi Dirut Bank Mandiri, maka yang berpeluang terbesar untuk menggantikannya sebagai Dirut BRI adalah Sunarso yang kini menjabat sebagai wakil direktur utama.
Sunarso memiliki banyak jam terbang di industri perbankan dan kuat dalam bidang operasional dan kredit komersial. Sebelum menjadi wakil direktur utama BRI, Sunarso adalah direktur commercial & business banking Bank Mandiri.
Skenario ini makin menguat mengingat saat ini pemerintah cenderung untuk merotasi bangku direksi ketika terjadi perombakan susunan kursi direksi bank BUMN.

Maryono (Direktur Utama BTN) 

Jika Maryono terpilih sebagai dirut Bank Mandiri, kemungkinan besar yang menggantikannya adalah orang dari luar BTN. Hal ini disebabkan pemerintah menginginkan adanya perubahan di BTN, dimana dibanding dengan bank BUMN lainnya, BTN relatif tertinggal. Buktinya, ketika masa jabatan Iqbal Latanro di BTN habis dan ditunjuk menjadi dirut Taspen, pemerintah menarik Maryono yang sukses menyelesaikan krisis di Bank Mutiara.
Pengganti Maryono harus kuat di bidang mortgage yang merupakan core business BTN. Nama yang beredar adalah Dyah Hindraswarini yang saat ini menjabat sebagai direktur konsumer Bank Artha Graha. Sebelum di Bank Artha Graha, Dyah sukses memajukan bisnis KPR di BNI dan sempat masuk dalam nominasi direksi BNI saat terjadi perombakan susunan direksi BNI beberapa waktu lalu.

Sofyan Basir (Direktur Utama PLN) 

Jika Sofyan Basir yang terpilih menjadi dirut Bank Mandiri, maka yang paling berpeluang menggantikannya adalah Hendi Prio Santoso yang saat ini memegang tampuk pimpinan PGN. Ini merupakan kompensasi apabila Hendi tidak terpilih menjadi dirut Bank Mandiri.
Minimnya ketersediaan corporate leader terbaik mengakibatkan sering terjadi peputaran direksi dari satu perusahaan ke perusahaan lain dan perlu diberi tantangan baru untuk memimpin perusahaan yang lebih besar.

KANDIDAT DIRUT BANK MANDIRI PILIHAN PRESIDEN JOKOWI

Pemerintah selaku pemegang saham pengendali dari PT Bank Mandiri Tbk tengah sibuk menyaring nama-nama untuk dicalonkan sebagai kandidat direktur utama bank dengan aset terbesar di Indonesia tersebut. Penyaringan nama calon-calon tersebut untuk menggantikan posisi Budi Gunadi Sadikin yang masa jabatannya akan berakhir pada Maret 2016 nanti.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah menyiapkan kandidat pengganti Budi yang berasal dari dalam Bank Mandiri maupun dari luar. Setidaknya ada 8 (delapan) nama yang beredar menjadi kandidat pengganti Budi Gunadi Sadikin di Bank Mandiri. Berikut nama-nama yang beredar tersebut :

1. Asmawi Syam (Direktur Utama BRI)




Setelah meraih gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Hasanuddin, Asmawi memulai karirnya di BRI. Setelah 27 tahun mengabdi di BRI, ia mendapat kepercayaan dari pemegang saham untuk masuk jajaran direksi.
Mantan Ketua Senat Mahasiswa Unhas ini karirnya begitu cemerlang. Terakhir, ia dinobatkan sebagai “Bankers of The Year 2015” Indonesia dari The Banker.
Asmawi juga sudah hampir habis masa baktinya di BRI, sehingga berpeluang diberi tugas besar untuk memimpin Bank Mandiri.


2. Maryono (Direktur Utama BTN)




Maryono sebenarnya adalah orang lama di Bank Mandiri. Setelah lulus sarjana ekonomi dari Universitas Diponegoro, Maryono berkarir di Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) yang kemudian merger menjadi Bank Mandiri. Pada tahun 2008, ia dipercaya sebagai Direktur Utama Bank Mutiara (eks Bank Century) dan berhasil memperbaiki kondisi bank yang tidak sehat hanya dalam waktu satu tahun. Tahun 2013 ia dipercaya menakhkodai BTN.


3. Sofyan Basir (Direktur Utama PLN)




Sofyan Basir bukan nama asing di perbankan nasional. Perjalanan karirnya dimulai di Bank Duta pada tahun 1981. Pada tahun 1986, ia bergabung ke Bank Bukopin hingga dipercaya memegang tampuk pimpinan sebagai direktur utama.
Sempat diragukan kiprahnya ketika dipercaya menjadi Direktur Utama BRI pada tahun 2005, namun dengan tangan dinginnya membuktikan bahwa ia adalah banker berkualitas. Dibawah kendalinya, dia sukses memimpin transformasi BRI sehingga menjadi bank raksasa yang disegani kompetitor.


4. Hendi Prio Santoso (Direktur Utama PGN)




Hendi Prio Santoso sejatinya adalah seorang bankir. Ia memulai karirnya di Bank Niaga pada tahun 1990 dan setahun kemudian bergabung ke Citibank hingga tahun 1996. Alumnus University of Houston ini kemudian berkarir di industri multifinance, perusahaan investasi dan sekuritas.
Pada tahun 2007, ia hijrah ke PGN sebagai direktur keuangan. Setahun berselang, Hendi dipercaya sebagai direktur utama.


5. Haryanto T. Budiman (Managing Director JP Morgan Indonesia)




Haryanto T. Budiman adalah satu-satunya kandidat dari luar BUMN. Karir di industri keuangannya dimulai di McKinsey pada tahun 1996. Selama 10 tahun Haryanto menangani lembaga keuangan dan korporasi di Indonesia, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Australia.
Pada tahun 2006 Haryanto mengundurkan diri dari McKinsey dan sempat menjadi konsultan Bank Mandiri sebelum diajak Agus Martowardojo yang kala itu menjabat direktur utama Bank Mandiri untuk menduduki posisi senior executive vice president.
Lepas dari Bank Mandiri, Haryanto dipercaya menduduki posisi Managing Director dan Senior Country Officer Indonesia JP Morgan pada tahun 2012.

6. Kartika Wirjoatmodjo (Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri)




Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini memulai karirnya sebagai akuntan di RSM AAJ Associates sejak tahun 1995. Setahun kemudian, ia pindah ke Mizuho Corporate Bank sebagai analis kredit dan kemudian di tahun 1998 menjadi senior consultant, financial advisory services di PricewaterhouseCoopers (PwC).
Sempat membangun karir di The Boston Consulting Group, pada tahun 2003 Kartika bergabung ke Bank Mandiri sebagai Senior Vice President Group Head of Strategy. Pada tahun 2008 ia dipromosikan menjadi Managing Director Mandiri Sekuritas.
Tahun 2011 hingga 2013 ia ditunjuk sebagai CEO Indonesia Infrastruktur Finance dan kemudian ditunjuk sebagai Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Pada tahun 2015 pemerintah mempercayakan untuk jabatan direktur keuangan dan strategi Bank Mandiri.


7. Pahala N. Mansury (Direktur Treasury & Markets Bank Mandiri)




Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini memulai karirnya sebagai konsultan di Andersen Consulting Accenture sejak tahun 1994. Pada tahun 1999 Pahala juga sempat menduduki posisi senior consultant di Booz Allen & Hamilton.
Sempat membangun karir di The Boston Consulting Group, pada tahun 2003 Pahala bergabung ke Bank Mandiri sebagai Senior Vice President. Pada tahun 2006 ia menduduki jabatan Executive Vice President coordinator finance & strategy. Pada tahun 2010 dia dipercaya menjabat direktur keuangan dan strategi Bank Mandiri dan di tahun 2015 dia menjabat sebagai direktur treasury & markets Bank Mandiri.


8. Royke Tumilaar (Direktur Corporate Banking Bank Mandiri)




Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti ini memulai karirnya di Astra International pada tahun 1987. Cita-citanya sebagai bankir membawanya ke Bank Dagang Negara (BDN). Sebelum merger menjadi Bank Mandiri, jabatan terakhirnya di BDN adalah sebagai senior manager.
Sempat menjadi komisaris utama Asuransi Staco Jasapratama dan komisaris Mandiri Sekuritas, pada tahun 2011 Royke ditunjuk sebagai direktur treasury, financial institutions & special asset management Bank Mandiri dan di tahun 2015 ia duduk sebagai direktur corporate banking Bank Mandiri.










Link Banner

PERBANKAN

REVIEW

KASUS BISNIS

HALAL CORNER

KAJIAN MUSLIM

RENUNGAN

SEJARAH NUSANTARA

SEJARAH INDONESIA

SEJARAH DUNIA

EDITORIAL

DESTINASI INDONESIA

DESTINASI MANCANEGARA