Selasa, 08 Maret 2016

KESULTANAN OTTOMAN (1)



Dalam bahasa Turki Utsmaniyah, kesultanan ini disebut Devlet-i 'Aliyye-yi 'Osmaniyye atau Osmanli Devleti. Dalam bahasa Turki Modern, kesultanan ini dikenal dengan sebutan Osmanli Devleti atau Osmanli Imparatorlugu. Di sejumlah literatur barat, nama "Ottoman" dan "Turkey" sering dipakai. Ketika kesultanan runtuh pada tahun 1924, nama Turki dipakai sebagai nama resmi.


Sama seperti kebanyakan kekaisaran-kekaisaran besar dunia, Kesultanan Ottoman memulai perjalanan sejarahnya dari latar belakang sederhana. Bangsa Turki bermigrasi ke daerah Anatolia dari timur dan membentuk beberapa negara kecil bawahan Kesultanan Seljuk Rum yang disebut beylik. Beylik-beylik ini memiliki peran sebagai lini depan dalam perang panjang antara Seljuk dan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium). Kesultanan Seljuk mengalami kemunduran pasca kekalahannya di Pertempuran Köse Dağ melawan Mongol pada tahun 1243. Kekalahan ini menyebabkan Kesultanan Seljuk Rum menjadi vassal dari Mongol. Perlahan, para sultan-sultan Seljuk pun mulai kehilangan kekuatan, sementara beylik-beylik di bawah pengawasan Mongol mulai mengumpulkan kekuatan. Yang terkuat di antara beylik-beylik ini adalah Karamanid dan Germiyanid yang terletak di daerah tengah Anatolia.

Osman, kepala suku Kayi dan pemimpin beylik di Söğüt, Anatolia bagian barat memerdekakan diri dari Kesultanan Seljuk Rum pada tahun 1299. Tirai sejarah Ottoman pun kini dibuka. Perlahan, kekuatan kecil ini akan berevolusi secara bertahap menjadi salah satu negara adidaya yang banyak berpengaruh dalam sejarah dunia.

Di bawah pemerintahan Osman I, Orhan, Murad I, Bayezid I, Kesultanan Ottoman memulai perjalanannya dengan menyerap beylik-beylik tetangga. Pertempuran dengan Bizantium pun tak terelakkan. Ottoman pun menyerang kota-kota milik Bizantium di Anatolia. Dengan jatuhnya Galipoli pada tahun 1354, jalan menuju Eropa kini terbuka lebar. Ekspansi menuju daerah Balkan akhirnya dimulai. Serbia, Bulgaria dan negara-negara Balkan lain pun menambah daftar panjang musuh-musuh Ottoman.
Osman I
Negara-negara Balkan dan Bizantium bisa bernafas lega untuk sementara pada saat Timurlenk sang penakluk terlibat konflik dengan Ottoman. Kedua kekuatan bertemu dalam Pertempuran Ankara pada tanggal 20 Juli 1402. Ottoman kalah telak. Bahkan Sultan Bayezid I menjadi tahanan perang. Anak-anak Bayezid I, Suleiman Çelebi, İsa Çelebi, Mehmed Çelebi, dan Musa Çelebi pun memperebutkan tahta yang kosong semenjak absennya sang ayah. Ottoman pun terpecah-pecah.

Setelah konflik berkepanjangan, Mehmed Çelebi menyatukan kesultanan kembali pada tahun 1413. Ia naik tahta sebagai Sultan Mehmed I. Daerah-daerah yang dikuasai Ottoman di Balkan berhasil direbut saat perang saudara terjadi, namun di bawah komando penerus Mehmed I, yakni Murad II, daerah-daerah tersebut berhasil dikembalikan.

Penerus Murad II, Mehmed II akhirnya menancapkan paku terakhir untuk menutup peti mati Bizantium. Jatuhnya caput mundi Konstantinopel pada tanggal 29 Mei 1453 oleh pasukan besar Ottoman pun menandai perubahan besar dunia. Benteng terbesar Kekristenan kini telah jatuh ke tangan Ottoman. Dalam waktu seabad, bangsa nomadic telah menjadi negara ekspansionis yang mengerikan dan tak terbendung. Banyak filosofis dan cendikiawan dari Konstantinopel pun melarikan diri ke barat, dan membakar semangat Renaisans di Eropa. Sejak penaklukan Konstantinopel, Mehmed II pun dikenal dengan nama julukan Fatih, yang berarti Sang Penakluk.
Mehmed II
Sultan Mehmed II pun melanjutkan ekspansinya. Ia berhasil menaklukkan Serbia, Yunani, Bosnia dan Moldavia, serta menyatukan seluruh Asia Minor di bawah kekuasaan Ottoman sebelum wafat di tahun 1481. Ia meninggalkan sebuah kekaisaran yang berdiri dengan gagah di dua benua. Ibukota Ottoman pun dipindahkan ke Konstantinopel. Di bawah pemerintahannya pula, Istana Topkapi dibangun, dan budaya dan peradaban Turki berkembang pesat. Di bawah penerus Mehmed II, Bayezid II, konflik terbuka dengan Kesultanan Mameluk, penguasa Mesir dan Persia Safawiyah pun dimulai. Hubungan Ottoman dengan Republik Venesia pun semakin memanas. Akhir pemerintahan Bayezid II ditandai dengan gejolak internal. Ahmet dan Selim, anak-anak Bayezid II bertarung untuk memperebutkan gelar Sultan. Selim yang dibeking oleh para Janissary pun keluar sebagai pemenang dan memaksa ayahnya untuk turun tahta.

Sultan Selim I berhasil memperluas kekuasaan Ottoman secara ekstensif ke timur dan selatan. Ia berhasil mengalahkan Mameluk, dan menguasai Suriah, Lebanon dan Mesir serta mengamankan posisi Ottoman di timur dengan mengalahkan Dinasti Safawiyah. Ia juga sultan pertama Ottoman yang dianugrahi gelar kalifah.

Penerus Selim I, Suleiman I, atau biasa dikenal dengan julukan Suleiman yang Luar Biasa menandai titik kejayaan tertinggi dalam sejarah Ottoman. Di bawah kepemimpinannya, ekspansi Ottoman semakin menusuk masuk ke Eropa sebelum akhirnya dipukul mundur di Wina, Austria. Sebagian besar Afrika Utara, dari Tunisia hingga Algeria pun dikuasai dan angkatan laut Ottoman mendominasi daerah Mediterania dan Laut Merah. Memiliki musuh yang sama, yakni Wangsa Habsburg, Ottoman pun terlibat aliansi dengan Prancis, yang akan menjadi sekutu tradisionalnya dalam dunia politik Eropa. Suleiman I juga seorang administrator yang handal. Ia meratifikasi hukum yang akan dipakai oleh Kesultanan Ottoman sampai akhir sejarahnya, sehingga membuatnya juga dikenal dengan julukan “Sang Pemberi Hukum”.
Suleiman I
Wafatnya Sultan Suleiman I di tahun 1566 menandai awal dari stagnansi panjang Kesultanan Ottoman. Kesultanan tidak akan mencapai kejayaan yang sama lagi seperti pada pemerintahan Suleiman I. Kendati berstatus sebagai negara adidaya, sultan-sultan yang memerintah lemah dan tidak kompeten, sementara para valide sultan (ibu sultan) secara de facto memegang kekuasaan tertinggi atas kesultanan selama hampir 130 tahun. Kekalahan di Lepanto pada tahun 1571 menjadi pukulan serius untuk reputasi angkatan laut Ottoman yang selama ini dianggap invincible. Satu per satu kekalahan pun mulai menyusul setelahnya, menunjukkan dengan jelas semakin berkurangnya kapabilitas angkatan perang Ottoman. Sementara itu, pasukan elit kesultanan, janissary mulai menyadari arti penting keberadaan mereka dan kekuasaan yang mereka miliki. Mereka pun mulai menuntut hak-hak berlebih dari sultan yang memerintah, dan kerap ikut campur dalam urusan politik.

Di bawah pemerintahan Sultan Murad IV yang berkuasa dari tahun 1623-1640 berhasil merestorasi kewibawaan kesultanan dengan menguasai Azerbaijan, dan Irak serta menginvasi Mesopotamia. Sayangnya, ia meninggal di usia yang relatif muda, yakni 27 tahun, dan digantikan oleh Sultan Ibrahim, saudaranya yang tidak waras. Ibrahim nantinya akan dikudeta oleh para janissary dan ulama. Ia dibunuh dan digantikan oleh anaknya, Mehmed IV yang baru berusia 7 tahun.


#Jasmerah 003

0 komentar:

Posting Komentar

PERBANKAN

REVIEW

KASUS BISNIS

HALAL CORNER

KAJIAN MUSLIM

RENUNGAN

SEJARAH NUSANTARA

SEJARAH INDONESIA

SEJARAH DUNIA

EDITORIAL

DESTINASI INDONESIA

DESTINASI MANCANEGARA