Selasa, 08 Maret 2016

KISAH SUKSES TRANSFORMASI BANK NTB


Bank Pembangunan Daerah (BPD) dalam beberapa tahun belakang, kerap disoroti kalangan penegak hukum. Di sejumlah kasus, bank tersebut kerap dijadikan bancakan korupsi  pemimpin daerah. Citra itu yang berusaha dihilangkan oleh Bank NTB bersama Gubernur NTB TGB Muhammad Zainul Majdi (43).
 
TGB Muhammad Zainul Majdi
Zainul menceritakan awal mula proses perbaikan bank NTB 6 tahun lalu, atau ketika menjabat sebagai gubernur di periode pertama. Dia sudah mendengar berbagai kasus bank daerah yang rawan penyelewengan di berbagai wilayah lain. Karena itu, dia berusaha mencari orang-orang  terbaik untuk menempati posisi kunci di bank tersebut. Zainul kemudian menemui Agus Martowardojo, yang saat itu menjabat sebagai Dirut Bank Mandiri, dan sejumlah jajaran petinggi bank pemerintah lainnya.Zainul meminta agar mereka mengajukan orang yang terbaik untuk memimpin Bank NTB.

"Dulu itu bank daerah sempat dianggap bank bancakan kepala daerah. Ini harus berhenti dan cut off dan diputus," terang Zainul. "Menurut mereka (Agus Marto dan petinggi bank lain), baru pertama ada kepala daerah yang minta resources kepada kami," sambungnya. Akhirnya, didapatlah seorang direktur utama bernama Komari Subakir. Pria yang pernah berkarier di Bank Bumi Daya dan Bank Mandiri tersebut didatangkan ke Mataram. Namun ternyata, sempat terjadi penolakan. Zainul sempat jadi bahan pembicaraan karena tak merekrut putra daerah dan sebagainya. "Tapi saya tutup telinga. Untuk hal-hal tertentu kita harus berani bertransformasi," tambahnya. Komari pun sempat bolak balik berkonsultasi dengan Zainul di awal-awal waktunya bertugas. Bahkan sempat menanyakan, apakah harus berhenti atau terus bekerja. Namun Zainul memintanya tetap semangat. "Saya bilang selama Anda berbuat baik, niatnya baik dan profesional saya akan back up," kata Gubernur yang mendapat gelar S1, S2 dan S3 di Universitas Al Azhar Mesir ini. Hasilnya, tentu saja positif. Di tangan Komari, Bank NTB masuk dalam jajaran bank daerah yang diperhitungkan di Indonesia, bahkan sempat menjadi bahan acuan bagi bank lainnya. "Padahal skala modalnya kecil, itu menunjukkan bahwa Bank NTB satu transformasi bank daerah yang baik," imbuh Zainul.

Komari juga sempat menceritakan pencapaiannya selama enam tahun terakhir. Sejak tahun 2010 sampai tahun 2015 asetnya terus bertambah. Di tahun 2010 nilainya Rp 2,7 triliun, lalu pada 30 Juni 2015 mencapai Rp 7,3 triliun. Kredit yang diberikan pun terus bertambah. Pada  tahun 2010 angkanya sekitar Rp 2 triliun, lalu pada tahun 2015 Rp 4,36 triliun. Modal inti bank di tahun 2010 Rp 328 miliar, kini sudah mencapai Rp 800 miliar.

Komari Subakir


"Kami terus berusaha membantu pemerintah daerah sebagai pemegang saham untuk meningkatkan pembangunan di daerah," kata Komari yang sudah bertugas selama 6 tahun tersebut. Produk-produk Bank NTB pun terus meningkat. Mereka sedang mengembangkan program kartu kredit bersama Bank Mandiri. Lalu sudah bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk penyaluran kredit rumah bagi PNS dan masyarakat dengan pendapatan rendah. Nama programnya Satu Juta Rumah.
"Menjadi target kami untuk memenuhi rumah bagi PNS," kata pria asal Jember ini.

Kinerja Bank NTB juga mendapat penghargaan dari Tempo  dan Indonesia Banking School. Bank tersebut didaulat sebagai The Most Reliable Bank kategori BPD pada tahun 2015. Bank NTB juga terpilih sebagai The Most Efficient Bank mengalahkan Bank Sulteng, Bank Bengkulu, Bank Sultra, dan Bank Jambi. Ke depan, Komari sudah merencanakan program-program besar untuk Bank NTB. Dia bertekad menjadikan bank daerah semakin bermanfaat bagi masyarakat NTB dan jauh dari citra negatif.


#detikfinance

0 komentar:

Posting Komentar

PERBANKAN

REVIEW

KASUS BISNIS

HALAL CORNER

KAJIAN MUSLIM

RENUNGAN

SEJARAH NUSANTARA

SEJARAH INDONESIA

SEJARAH DUNIA

EDITORIAL

DESTINASI INDONESIA

DESTINASI MANCANEGARA