Selasa, 08 Maret 2016

SUKARNO DAN WANITA (3) - Hartini

Di luar kisah dan intrik yang terjadi pada Sukarno dalam perjalanan politiknya, sang presiden juga punya petulangan cinta yang seru untuk diikuti. Tidak tanggung-tanggung, Sukarno punya sembilan orang wanita yang ia persunting sebagai istri. Kharisma dan serta rayuan-rayuan mautnya sukses membuat wanita-wanita ini jatuh hati kepada sosok Sukarno. Mereka pun ikut mewarnai kehidupan Sukarno, baik secara personal, maupun secara politis.

Tahun 1953 di kota sejuk Salatiga, Sukarno yang sedang melakukan kunjungan ke Jawa Tengah dan DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) singgah di kota kecil nan sejuk, Salatiga yang terletak dikaki gunung Merbabu. Disana ternyata sang Presiden bertemu dengan wanita yang kelak akan mengisi hari-harinya. Hartini, itulah nama wanita yang membuat Sukarno kepincut.

Hartini pada waktu itu sedang membantu ibu-ibu lainnya didapur kediaman walikota Salatiga untuk menyiapkan penganan bagi Presiden dan rombongan. Hartini yang merasa percaya diri dengan sayur lodehnya pun mempersiapkan sayur lodeh untuk disuguhkan bersama masakan lainnya kepada Presiden dan rombongan. Presiden yang selesai berpidato di Lapangan Tamansari pun lanjut singgah di kediaman walikota Salatiga untuk menikmati jamuan makan siang. Bung Karno yang merupakan orang jawa memang penggemar sayur lodeh begitu terkesan dengan dengan sayur lodeh yang dimakannya, Bung Karno kemudian mempertanyakan siapa yang memasak sayur lodeh itu.

Didorong oleh teman-temannya Hartini pun maju untuk menemui sang Presiden. Bung Karno yang mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Hartini pun seperti kagum terhadap kecantikan hartini yang berwajah lembut dan berkulit kuning langsat. Dari sanalah titik awal perkenalan Sukarno dan Hartini. Kembali ke Jakarta ternyata Sukarno masih belum bisa melupakan Hartini. Maka berkirim suratlah Sukarno kepada Hartini, beginilah isinya “Tuhan telah mempertemukan kita tien, dan aku mencintaimu. Ini adalah takdir”. Tak selesai sampai disitu telegram-telegram lainnya pun menyusul surat pertama itu. Srihani begitulah Sukarno memberikan nama sandi terhadap Hartini, sedangkan Sukarno sendiri “memanggil” dirinya sebagai Srihana. Setahun setelah pertemuan pertama mereka, keduanya bertemu kembali di kawasan Candi Prambanan. Sukarno yang sudah mengutarakan keinginannya untuk menikahi Hartini membuat hati Hartini gundah-gulana. Hartini sendiri adalah seorang janda beranak lima, sedangkan Sukarno sendiri adalah seorang presiden Indonesia yang juga sudah beristri. Tak kuasa menolak pinangan sang Presiden, Hartini pun menerima pinangan Sukarno dengan syarat Sukarno tidak menceraikan istri pertamanya yaitu Fatmawati.

Ya, dalem bersedia menjadi isteri Nandalem (Ya, saya bersedia menjadi isteri tuan), tapi dengan syarat, Ibu Fat tetap first lady, saya isteri kedua. Saya tidak mau Ibu Fat diceraikan, karena kami sama-sama wanita.” Akhirnya keduanya pun menikah di Istana Cipanas tahun 1954. Berbeda dengan Fatmawati, Hartini lebih banyak terjun didalam politik dan berperan sebagai ibu negara. Hartini mengikuti Sukarno dalam berbagai diplomasi dari luar negeri, dan bertemu dengan figur seperti Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko dari Jepang, Raja Norodum Sihanouk dari Kamboja dan tokoh revolusi Vietnam, Ho Chi Minh. 

Akan tetapi masa-masa bahagia Hartini dan Sukarno pun menemui akhirnya. Masuk ke tahun 1960-an, kekuasaan dan popularitas Sukarno semakin memudar. PKI mulai berkembang dan puncaknya setelah terjadi peristiwa GESTOK (atau lebih dikenal dengan G30S/PKI –red). Lima bulan setelah kejadian mengerikan yang mengakibatkan kematian 6 perwira militer tinggi Indonesia dan beberapa korban lainnya, Sukarno pun lengser dan Suharto naik jadi Presiden Indonesia. Sukarno kemudian “diasingkan” di Wisma Yasso. Ketika inilah orang bisa melihat kekuatan cinta Hartini untuk Sukarno yang sedemikian besar. Meskipun pada waktu itu Sukarno sudah menikah beberapa kali lagi, Hartini tetap teguh untuk menemani Bung Karno hingga akhir hayatnya. 


(Jasmerah #001) 





0 komentar:

Posting Komentar

PERBANKAN

REVIEW

KASUS BISNIS

HALAL CORNER

KAJIAN MUSLIM

RENUNGAN

SEJARAH NUSANTARA

SEJARAH INDONESIA

SEJARAH DUNIA

EDITORIAL

DESTINASI INDONESIA

DESTINASI MANCANEGARA