Minggu, 13 Maret 2016

PERTEMPURAN SURABAYA


Jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki membuat Jepang terpaksa mengakui kekalahan di hadapan pihak Sekutu pada akhir Perang Dunia II. Momen tersebut lantas dimanfaatkan oleh kaum nasionalis Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun nun jauh di luar sana, Belanda selaku negara penjajah Indonesia sebelum kedatangan Jepang ternyata masih enggan melepaskan klaim kekuasaannya atas Indonesia. Surabaya lantas menjadi saksi bisu yang penuh darah ketika impian Belanda untuk melanjutkan penjajahannya bertabrakan dengan impian rakyat Indonesia untuk hidup merdeka.

Keinginan Belanda untuk melanjutkan upayanya menguasai kembali wilayah Indonesia menemui batu sandungan besar. Negeri Kincir Angin tersebut mengalami penurunan kekuatan yang signifikan akibat Perang Dunia II di daratan Eropa. Maka, Belanda pun meminta bantuan dari negara-negara sesame anggota Sekutu dengan mengesankan bahwa kelompok nasionalis Indonesia aslinya hanyalah segerombolan pengacau yang tidak mendapatkan dukungan luas dari rakyat setempat. Hasilnya, Amerika Serikat (AS) setuju untuk memberikan bantuan finansial kepada Belanda. Inggris juga setuju untuk mengirimkan pasukan ke wilayah Indonesia.

Sementara itu di Indonesia sendiri, rakyat setempat masih dilanda euforia pasca proklamasi kemerdekaan. Pada tanggal 1 September 1945, pemerintah Indonesia menetapkan bahwa bendera Indonesia yang berwarna merah-putih harus dikibarkan di seluruh wilayah Indonesia. Perintah tersebut lantas diikuti dengan kegiatan penurunan bendera Jepang dan pengibaran bendera Indonesia secara besar-besaran, tak terkecuali di Surabaya. Namun pada tanggal 18 September 1945, sejumlah orang Belanda yang sedang berada di Hotel Yamato / Oranje, Surabaya, justru memilih untuk mengibarkan bendera Belanda yang berwarna merah-putih-biru di puncak atap hotel yang sama.


Tindakan orang-orang Belanda tersebut akhirnya terendus di hari berikutnya oleh para pemuda setempat yang sedang melakukan patroli. Mereka kemudian memasuki hotel tersebut untuk menuntut penurunan bendera dan adu mulut pun terjadi dengan orang-orang Belanda yang sedang berada di dalam hotel. Situasi semakin tegang, perdebatan akhirnya pecah menjadi aksi baku hantam dan saling tembak. Korban tewas pun berjatuhan di kedua belah pihak. Di saat ketegangan dan pertumpahan darah terjadi di dalam hotel, pemuda-pemuda Indonesia yang sedang berada di luar hotel mencoba menaiki atap hotel dengan memakai tangga. Bagian biru dari bendera Belanda dirobek sehingga kini warna yang tersisa dari bendera tersebut adalah merah-putih.


Memasuki awal Oktober 1945, Surabaya diwarnai oleh aksi-aksi penyerangan yang dilakukan oleh pasukan milisi Indonesia terhadap pasukan Jepang yang menolak menyerahkan persenjataan miliknya. Tanggal 25 Oktober, pasukan Inggris yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal A. W. S. Mallaby akhirnya tiba di Surabaya untuk mengevakuasi para interniran (tawanan perang), menduduki bangunan-bangunan penting di Surabaya, dan melucuti persenjataan Jepang serta milisi Indonesia. Untuk memuluskan upaya pelucutan senjatanya, Inggris lewat pesawat terbangnya menjatuhkan selebaran-selebaran berisi ancaman hukuman tembak mati kepada orang-orang Indonesia yang masih memegang senjata.

Ketika para pejuang Indonesia menolak untuk menyerahkan senjatanya, pertempuran antara pasukan Inggris melawan pasukan Indonesia pun tak terhindarkan. Pertempuran berjalan berat sebelah karena 6.000 tentara Inggris harus melawan 20.000 anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Indonesia yang baru dibentuk beserta 100.000 milisi pendukungnya. Sadar bahwa mereka kalah jumlah dalam pertempuran tersebut, Inggris pun meminta Sukarno dan Hatta datang ke Surabaya untuk berunding. Perundingan tersebut berjalan relatif lancar dan gencatan senjata berhasil dicapai pada tanggal 30 Oktober 1945.

Kondisi di Surabaya sendiri masih belum benar-benar aman karena tidak semua anggota pasukan yang bertikai sudah mengetahui berita mengenai gencatan senjata yang baru dicapai. Saat Mallaby sedang berkekeliling untuk menyampaikan berita mengenai gencatan senjata kepada anak-anak buahnya, mobil yang ia tumpangi dicegat oleh beberapa milisi Indonesia. Percekcokan pun terjadi. Salah satu milisi Indonesia menembak Mallaby yang sedang duduk di kursi belakang mobilnya. Tentara Inggris yang sedang bersama Mallaby lantas membalasnya dengan melemparkan granat ke arah sang penembak. Namun naas, ledakan dari granat tersebut malah membakar bagian belakang dari mobil sehingga Mallaby tewas terpanggang di dalamnya.


Berita kematian Mallaby langsung membuat pemerintah Inggris murka. Mayor Jenderal Robert Mansergh ditunjuk untuk memimpin penyerbuan ke Surabaya. Bala bantuan yang mencakup puluhan ribu tentara, pesawat pembom, tank, dan kapal perang dikirim untuk mendukung penyerbuan yang dimaksud. Tanggal 9 November 1945, Inggris sempat mengeluarkan ultimatum terakhir kepada para pejuang Surabaya untuk menyerahkan persenjataannya. Namun alih-alih menuruti keinginan Inggris, para pejuang Surabaya yang dikomandoi Bung Tomo lewat siaran radio memilih untuk berjuang hingga titik darah penghabisan.


Tanggal 10 November pagi, ketika batas waktu menyerah yang ditetapkan oleh pihak Inggris sudah lewat, Inggris pun memulai serangan besar-besarannya ke kota Surabaya. Bom demi bom dijatuhkan oleh pesawat-pesawat Inggris di atas kota tersebut. Sementara dari laut, kapal-kapal perang Inggris melepaskan tembakannya secara bertubi-tubi. Gedung-gedung di Surabaya mulai rontok satu demi satu dan reruntuhannya merenggut nyawa dari orang-orang yang sedang ada di bawahnya. Tak lama kemudian, pasukan Inggris yang bersenjata lengkap dan didukung oleh kendaraan tempur termutakhirnya mulai memasuki jalanan kota Surabaya.

Waktu terus berlalu dan pertempuran terus berjalan. Di atas kertas, pasukan Inggris nampaknya akan menang mudah karena mereka memang lebih unggul dalam hal kualitas persenjataan dan pengalaman tempur. Namun, hal tersebut nyatanya tetap tidak mengecutkan nyali dari para pejuang Indonesia yang memilih untuk tetap melakukan perlawanan mati-matian dengan persenjataan seadanya. Suara ledakan bom dan letupan senjata api pecah di mana-mana. Mayat-mayat mulai bergelimpangan. Surabaya luluh lantak dan dipenuhi puing-puing bangunan. Sesudah melalui pertempuran sengit selama tiga minggu, Surabaya akhirnya jatuh ke tangan pihak Inggris.


Pertempuran Surabaya mengakibatkan Indonesia harus kehilangan 16.000 pejuangnya. Sementara di pihak Inggris, mereka hanya perlu menanggung korban tewas sebanyak 2.000 jiwa. Pertempuran tersebut juga mengakibatkan 200.000 penduduk Surabaya terpaksa mengungsi keluar kota. Walaupun Indonesia harus menanggung kerugian yang sama sekali tidak ringan, pertempuran di Surabaya juga sukses membuka mata dunia dan menghapus pandangan yang menganggap bahwa kelompok nasionalis Indonesia tidak memiliki dukungan luas dari rakyat setempat. Buntutnya, pasca pertempuran ini Inggris enggan melibatkan diri lebih jauh dalam konlik pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kini, tanggal 10 November diperingati setiap tahunnya di Indonesia sebagai Hari Pahlawan.



#Jasmerah002




0 komentar:

Posting Komentar

PERBANKAN

REVIEW

KASUS BISNIS

HALAL CORNER

KAJIAN MUSLIM

RENUNGAN

SEJARAH NUSANTARA

SEJARAH INDONESIA

SEJARAH DUNIA

EDITORIAL

DESTINASI INDONESIA

DESTINASI MANCANEGARA