Rabu, 16 Maret 2016

GUANGZHOU - Feast Of The East

Guangzhou adalah kota yang serba-cepat, penuh rasa optimis, dan merupakan salah satu kota di China yang paling energetik. Cobalah tinggal selama beberapa hari di sini, Anda akan melihat segala hal modern tentang China, dan menikmati fasilitas dari sebuah negara yang berorientasi ke masa depan. Penduduk setempat, mereka bagaikan orang Italia-nya China yang banyak bicara, suka bergaul, ekspresif dan menyukai makanan enak.

Pastinya, jika ada satu alasan kuat untuk mengunjungi Guangzhou (atau Kanton), itu adalah karena kelezatan kulinernya yang terkenal. Menurut legenda, lima dewa turun ke daerah ini di zaman kuno dengan memikul batang padi, simbol kemakmuran. Sekeliling Guangzhou adalah sebuah provinsi subur yang memanen padi tiga kali setahun serta menghasilkan buah buahan, sayuran dan tebu yang melimpah. Daerah ini terutama terkenal dengan lecinya yang sudah digemari sejak dahulu kala. Kaisar Dinasti Tang, Ming Huang, biasa meminta dibawakan leci ke istana untuk selir kesayangannya. Penyair abad ke-11, Su Shi, menulis “Lament for Lychees” untuk orang-orang yang kehilangan nyawa mereka demi mengangkut buah-buahan ke utara dengan kecepatan yang sangat tinggi agar leci yang mereka bawa tak sempat kehilangan kesegarannya.


Namun dewasa ini, produk lokal dapat dinikmati tanpa harus terjadi korban dalam pengirimannya. Guangzhou mengklaim akan memiliki lebih banyak restoran dan kedai teh daripada kota-kota lain di China, dan sebuah ungkapan China “makan di Guangzhou” berarti seseorang telah berhasil mencapai puncak kesuksesan. Survei terbaru mengungkapkan bahwa orang Kanton menghabiskan dana tujuh kali rata-rata pendapatan nasional untuk makan di luar.

Hal ini tak mengherankan karena masakan Kanton dianggap sebagai satu dari empat masakan utama China. Masakan Kanton juga merupakan masakan China paling terkenal di luar negeri, berkat legiun China Selatan yang beremigrasi ke seluruh penjuru dunia. Stir-frying (teknik menumis dengan sedikit minyak pada suhu tinggi) dan blanching (teknik mencelup bahan makanan ke dalam air mendidih hingga setengah matang) adalah cara memasak yang membuat rasa dari bahan makanan keluar. Minyak dan rempah-rempah yang digunakan pun lebih sedikit. Makanan khas Kanton memiliki ciri daging yang dimasak lambat, sering kali direbus dengan arak beras serta kecap dan disertai sayuran hijau pahit yang disajikan bersama saus tiram.


Kekhasan Kanton lainnya adalah dim sum di pagi hari, menu sarapan yang terdiri atas sejumlah makanan ringan. Makanan ini biasanya diedarkan di restoran dengan troli, di mana pelanggan dapat langsung memilih isi menu sarapan yang mereka sukai. Dim sum biasanya disajikan antara jam 07.00 sampai 10.00, atau terkadang hingga setelahnya di tempat-tempat yang lebih representatif, dan biasanya sangat ramai pada Minggu pagi. Tentu saja, wisata ke kota ini tak akan lengkap tanpa mencicipi setidaknya satu kali menu dim sum. Nikmati kelezatan makanan seperti pangsit udang, lumpia, ketan, roti kukus dengan beragam variasi isi, iga, kepiting dan bubur.


Panxi (151 Longjin West Road) dikenal sebagai restoran dim sum terbaik di Liwan Park sebelah barat kota, yang menawarkan hidangan olahan seperti irisan kepiting hibiscus, atau sup kepiting dan kerang. Restoran Bei Yuan (202 Xiao North Road) telah menyajikan dim sum sejak tahun 1920-an, serta hidangan utama klasik seperti ayam dimasak dalam anggur, dan angsa panggang. The Datong (63 Yanjiang West Road) dengan posisi menghadap sungai, dipadati pengunjung hingga lantai sembilan, yang datang untuk menikmati hidangan utama daging anak babi panggang. Jika Anda ingin mencoba kaki ayam, restoran ini adalah tempat yang tepat karena kaki ayam di sini memang lezat.

Makan di restoran di Guangzhou tidaklah murah, karenanya banyak pelanggan yang sengaja makan dalam rangka bisnis guna menciptakan kesan bagi mitra mereka. Namun tetap saja, biaya yang dihabiskan cukup sepadan dengan makanan yang dapat dinikmati di samping danau yang indah, di tengah taman nan rindang atau di bawah bayang-bayang pagoda. Di antara restoran-restoran terbaik di kota ini terdapat restoran dengan halaman yang saling terpaut dan menu klasiknya di Guangzhou Restaurant (2 Wenchang South Road) serta restoran mewah bergaya colonial Tang Yuan (106 Liuhua Road), menawarkan makanan lezat seperti daging burung dara goreng renyah dan makarel panggang.


Restoran di dalam hotel juga tak kalah menariknya. Jade River Restaurant di White Swan Hotel mengkhususkan diri pada masakan lezat Kanton yang disuguhkan dengan latar kolam ikan dan arsitektur kayu bergaya oriental, sementara itu seorang tea hostess akan mengarahkan Anda ke ruang untuk minum teh. Juga Lai Wan Market di Garden Hotel yang bertema Kanton dahulu kala, dengan ruang makan berbentuk perahu dan menu lezat dim sum serta nasi.

Daging babi asam manis tidak diragukan merupakan hidangan Kanton paling terkenal, meskipun seafood dan ayam juga mendominasi. Namun, makanan muslim dari minoritas Hui tidak jarang ditemui di Guangzhou, baik di restoran maupun warung pinggir jalan. Guangzhou memiliki hubungan panjang dengan pedagang Arab; Masjid Huaisheng di kota itu dibangun oleh para penyebar agama dari Arab pada tahun 627 silam. Makanan khas Hui di antaranya buntut sapi rebus, daging domba panggang, iga dan angsa renyah, dilanjutkan dengan gorengan dan buah dengan teh manis yang sering kali mengandung kismis, kurma dan wijen.


Orang Kanton juga terkenal dengan selera petualangan mereka. Orang asing bisa saja khawatir melihat telur hijau berusia 1.000 tahun yang sebenarnya hanya berusia beberapa bulan, dan mendapatkan warnanya dari teh hijau. Segala macam bagian hewan dan hewan yang tidak biasa juga dimakan, mulai dari ular sampai lidah babi dan abalone. Sebuah gurauan China Utara mengatakan bahwa orang Kanton tak keberatan menyantap apa saja yang memiliki kaki, kecuali meja.

Jika Anda benar-benar ingin menyelidiki berbagai jenis masakan, Taotao Ju Restaurant (20 Dishifu Road) menyajikan semua menu itu, dan restoran ini merupakan salah satu restoran tradisional terbaik di Guangzhou. Anda juga dapat melahap sajian lezat Kanton seperti bebek goreng saus tiram, kepiting bumbu jahe, ikan kukus dengan kacang pinus, atau mungkin burung dara saus plum. Yang menyenangkan adalah, di masa kini, Anda tidak perlu menjadi seorang selir kaisar hanya untuk menikmati makanan terenak ini karena di Guangzhou, makanan enak ada di mana-mana.











#VisindoAgensiTama 





0 komentar:

Posting Komentar

PERBANKAN

REVIEW

KASUS BISNIS

HALAL CORNER

KAJIAN MUSLIM

RENUNGAN

SEJARAH NUSANTARA

SEJARAH INDONESIA

SEJARAH DUNIA

EDITORIAL

DESTINASI INDONESIA

DESTINASI MANCANEGARA